KABUT ASAP DI PEKAN BARU

 

Sebuah angkot tua tersungkur di jalan Riau.  Waktu itu masih pagi sekali.  Saya gegas hendak berangkat ke sekolah di dekat pasar Kodim.  Seperti banyak orang lainnya, saya naik angkot juga.  Samar-samar ingatan saya soal angkot atau oplet yang terbalik di pinggir jalan menguat bersamaan dengan kabut asap yang saya hisap setiap pagi.

 

Saya baru 10 hari di Pekan Baru.  Tabungan karbon monoksida di paru-paru saya sudah banyak.  Kalau tidak menjaga gizi dan kesehatan, bisa-bisa saya yang tersungkur kayak angkot itu.  Angkot naas di hari itu terbalik karena terhalang pandangan karena kabut asap yang memekat di kota ini.

 

Sepanjang yang saya ingat, walau sudah sejak tahun 1993, tak lagi pernah menetap di provinsi ini (kecuali mudik atau tinggal sebentar) dan pulang kembali di tahun 2014 ini, jika kemarau maka pagi hingga siang hari kabut di kota ini akan memekat.  Tak ada yang romantis dengan kabut seperti di dalam novel.  Ia bukan kabut misteri apalahi kabut sutra ungu.  Tak sama sekali.  Kabut ini adalah kabut teruk.  Asap dari pembakaran hutan.  Hutan menjelma ladang sawit atau ladang apa saja.  Jika kematian manusia di negara-negara afrika yang kelaparan sangat cepat, maka kematian pohon-pohon di provinsi ini, mungkin sama cepatnya.  Sama banyaknya.

 

Bertahun meninggalkan Pekan Baru, tampaknya keadaan sama saja.  Terlepas dari kemajuan ekonomi yang teramat pesat.  Jalan-jalan yang lebar.  Rumah-rumah bertumbuhan.  Apalagi ruko-ruko.  Desa yang dulu kami tempati dikenal sebagai penghasil buah rambutan (dengan ribuan pohon yang menutup lahan) bertukar menjadi kawasan perdagangan.  Sejengkal bertemu swalayan.  Sejengkal bertemu mal.  Kami yang dulu bertukar sapa dengan akrab, kini tak lagi saling mengenal.  Kecuali beberapa orang yang tak pernah benar-benar meninggalkan kediamannya.  Seperti ibu saya.  Ibu saya teguh mencintai kota ini.  Sayangnya, kabut asap pun seperti cinta dengan kota ini.   Sedari kita jaga, ia ada.

 

Saya mendapati putra semata wayang saya bahagia dengan rumah besar dan dua sepupunya yang super lincah.  Berharap semuanya tumbuh besar dengan kota yang berkembang semakin baik.  Ada harapan agar kesadaran akan lingkungan yang semestinya dengan ruang hijau yang tertata, bukan asap yang bertambah tebal sejalan dengan kemarau yang semakin kerontang.

 

Kesadaran ini harus dimulai dari dalam diri.  Tolong ingatkan saya, saya yang harus mulai menanam pohon.  Di mulai dari menanam sebatang pohon di pemakaman ayah saya yang gersang dengan ilalang yang meranggas.  Ingatkan ya.

 

Salam dari Pekan Baru

 

08 Feb. 14

 

Rahma Damayanty, tinggal di jalan Riau, belok kanan

Advertisements

TITIK NOL DI PEKAN BARU

Rasanya seperti disetrap di samping oven mama yang sibuk menyiapkan kue lebaran.

Pekan Baru.  Kota kelahiran saya.  Panas.  Membara.  Sedang jarum jam telah menunjukkan pukul delapan malam lebih.  Bandara Sutan Syarif Qasim banyak bersolek rupanya.  Lampu gemerlap di bandara.  Saya kembali ke kota ini setelah pengembaraan panjang di pulau Jawa.  Halah, kayak pendekar.

Kalimat pembuka tulisan diatas, bukan tulisan saya.  Saya mengutipnya dari buku “Titik Nol”-nya Agustinus Wibowo.  Ketika memutuskan pindah ke Pekan Baru, saya menyeleksi hingga 3 kali buku saya yang ratusan biji.  Beberapa buku bolak-balik masuk daftar yang akan disumbangkan, tapi buku itu tak pernah masuk daftar.  Buku itu bahkan sedari awal saya putuskan, sebagai buku yang akan ada di ransel setia saya, menemani perjalanan saya.  Ralat, menemani hidup saya.

Saya mengumpamanakan hidup saya di kota yang berkabut asap panas ini, sebagai “Titik Nol” saya.  Sebelumnya, tiada terbersit keinginan atau pikiran, akan secara spontan setelah diberondong kata-kata dari bos yang laksana meriam ditembakkan ribuan kali dari jarak yang sempurna untuk membunuh.  Seperti kucing yang punya 9 nyawa, saya menggunakannya 8 dari nyawa tersebut.  Sebelum dia membunuh nyawa saya yang ke-9, saya memutuskan give up.  Resign. Typo: tidak memperpanjang kontrak.

Terlepas dari apa yang terjadi, saya berterima kasih padanya.  Saya membayangkan menjadi pejuang seperti Ming atau Agustinus Wibowo di buku yang menyertai hidup saya itu. Atau menjadi Bodhi Liong di novel “Akar’nya Dee Lestari.  Keputusan saya itu mengingatkan pada bahwa manusia harus senantiasa keluar dari zona nyamannya.  Melakukan perjalanan.

Sebelumnya, saya diingatkan agar tidak kalah.  Dan memang ini bukan soal menang atau kalah.  Ini soal melanjutkan hidup dan menaklukkan tantangan terbesar, menantang diri sendiri.  Kata sahabat saya, “Kamu hanya memindahkan arena pertarunganmu”  Saya suka perumpamaan itu.  Sayangnya, saya bukan petinju yang mundur di puncak karier, saya mundur di puncak banjir Jakarta.  Aha.  Memang Jakarta sedang dikepung banjir, dan pekerjaan saya sebagai penulis dan copy writer yang sedang panas-panasnya memberitakan banjir.

Di sinilah saya sekarang.  Di rumah peninggalan almarhum papa yang namanya di nisan telah memudar.  Ketika saya menziarahi kuburnya, kurang dari 24 jam setelah menjejak kaki di kota seribu ruko ini.  Pengurus makam tampaknya menyemprotkan herbisida di semua makam, sehingga semua kembang meranggas dan mati.  Entah herbisida atau panas matahari yang membakar semua bunga di pemakaman.  Ketika Jakarta banjir, kota ini di awal kerontang.  Kakiku perih ditusuk duri ilalang.  Ada yang memanas di tepi mata saat itu.  Lama sekali meninggalkan kota ini, lama sekali tak berkunjung ke makam.  Aku pulang mendapati ibuku tersenyum senang.  Kepulanganku ini, ku harap mengobati luka hati ibunda.  Seperti Ming di titik nol, aku tak bisa membalas jasa ibunda sepanjang hayat.  Mencipta senyum di wajah ibunda, ku harap menjadi awal yang baik.

Rasanya, tidaklah seperti disetrap disamping oven mama yang sibuk menyiapkan kue lebaran.  Lebaran masih jauh.

Salam dari Pekan Baru,

07 Feb. 14

[Resolusi 2014] A Slimmer, Healthier, and Happier Me

????????Citizen6, Jakarta: Meskipun setiap tahun membuat resolusi, dan hampir sebagian besar tidak mencapai target, tetap saja setia menuliskannya setiap tahun. Tahun ini, saya ingin membuat resolusi yang Smart, yaitu specific, measurable, actionable, realistic, dan time based. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini fokus saya hanya satu, yaitu “Menurunkan 16 kg berat badan”. Saya menyebut Resolusi 2014 ini sebagai: A Slimmer, Healthier, and Happier Me.

Apakah hidup saya akan lebih bermakna jika tubuh saya berbobot normal? Tampaknya terlalu naif ya? Namun, jika saya introspeksi diri, melihat ke dalam diri, kelebihan berat badan ini telah menyebabkan lambannya aktivitas fisik. Belum lagi resiko timbulnya berbagai gejala penyakit, seperti asam urat, nyeri sendi, pegal-pegal, dan rawan kolesterol tinggi. Rasa percaya diri yang semakin lama semakin terkikis karena penampilan yang menua bersamaan dengan peningkatan bobot badan.

Nah, saya meyakini bahwa penurunan berat badan yang perlahan dan berangsur-angsur, dalam hal ini 16 kg dalam 12 bulan (penurunan rata-rata 1, 3 kg per bulan) adalah hal yang bijak. Saya tak terbebani target yang muluk-muluk yang sukar dicapai dalam waktu singkat. Yang saya butuhkan adalah komitmen, persistensi dan ketahanan untuk menyelesaikan tantangan ini. Untuk mencapai itu, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu: Menulis dua jam per hari (diluar menulis karena pekerjaan), berjalan kaki atau bersepeda setengah jam perhari, meluangkan waktu mendampingi putra semata wayang belajar satu jam perhari, berhenti makan daging merah, One day without rice, dan makan buah setiap hari.

Menulis 2 jam per Hari

Sebuah penelitian di Amerika dan Kanada melaporkan sejumlah mahasiswa obesitas diminta rutin menulis hal-hal yang mereka hargai dalam hidup selama 15 menit perhari. Kebiasaan ini terbukti dapat dapat menurunkan berat badan hingga 7 kg dalam 4 bulan. Sempurna bukan untuk mendukung resolusi 2014 tersebut?

Berjalan kaki atau bersepeda setengah Jam per hari

Tak terhitung banyaknya orang-orang yang berhasil menurunkan berat badan tanpa derita yang berarti dengan berjalan kaki atau bersepeda secara rutin setiap hari. Selain berjalan kaki, saya juga akan bersepeda, karena putra semata wayang saya meminta menemaninya bersepeda setiap hari. Jadi saya dapat dua keuntungan, membuat putra saya bahagia sekaligus melakukan aktivitas fisik. Penelitian University of Copenhagen melaporkan berolahraga setengah jam setiap hari (latihan moderat, membakar 300 kalori) dapat memangkas 3 kg berat badan dalam 13 minggu.

Mendampingi anak belajar 1 jam sehari

Sebelum resolusi ini, saya selalu mendampinginya belajar, bahkan lebih satu jam per hari. Sayangnya, sering sekali saya tidak fokus dalam mendampingi proses belajarnya. Seringkali sambil mendampingi, saya mengerjakan kegiatan lain, seperti membaca atau melakukan aktivitas di dapur. Tahun 2014 saya bertekad, minimal satu jam per hari saya fokus mendampinginya belajar. Saya yakin anak saya akan lebih bahagia, begitu pula saya.

One Day Without Rice

Saya mendengar program ini dari kantor balaikota Depok. Pak Walikota mempopulerkan gerakan ini, untuk mendukung program diversifikasi pangan utama sekali diversifikasi karbohidrat. Sesekali saya mencoba. Tahun 2014, saya berniat sekali seminggu akan menerapkan hal ini. One Day Without Rice per week. Karbohidrat terkontrol, program pemerintah sukses, dan katanya asupan nasi yang dibatasi membuat perut tidak membuncit. Keren bukan?

Berhenti makan daging merah

Saya tak akan membahas hal ini panjang lebar. Saya ingin berhenti makan daging merah dan variannya karena ingin sembuh dari asam urat. Tapi, jika sesekali ada undangan makan-makan, saya tak akan menolaknya. Jangan sampai resolusi mematikan perkawanan. Iya, bukan?

Makan buah setiap hari

Secara umum, buah dan sayuran merupakan bahan makanan pembentuk basa. Ia menetralisir asam dalam tubuh yang berasal dari protein. Karena saya menderita asam urat, berarti purin did dalam darah tinggi. Buah akan mempercepat tubuh saya hingga ke pH 7,4 – 7.6 agar darah bekerja normal. Tentu saja konsumsi buah yang banyak akan meningkatkan rasa kenyang, mengatasi rasa lapar palsu, menambah serat di dalam tubuh.

Semoga ke depannya, saya lebih konsisten dan memiliki ketahan diri untuk mencapai target resolusi 2014. (mar)

Penulis
Rahma Damayanty (@era_damayanty)

Sudah dimuat di:http://news.liputan6.com/read/783734/resolusi-2014-a-slimmer-healthier-and-happier-me

NATAL, SEPAK BOLA DAN HARUKI MURAKAMI

Sebelum lanjut membaca, perlu saya tegaskan ini opini pribadi saya lho…

Akhir-akhir ini, untuk tak mengatakan selalu, di kepala saya seperti ada ribuan ulat yang berputar-putar dan menggeliat tak tentu arah.  Padahal, pekerjaan saya banyak.  Sebagai penulis untuk kepentingan kantor, saya juga dituntut berinisiatif sendiri.  Nah, itu yang menambahkan pening kepala.  Rasanya seperti menjadi seekor kucing yang dilemparkan masuk sebuah karung yang juga berisi kucing lainnya.  Cari cara sendiri untuk survive dan bahagia.  Halah…dari ulat menjadi kucing.

Ada beberapa hal yang ada di kepala saya, akan saya bagikan kepada para pembaca agar ulat di kepala saya berkurang. Pertama, soal Natal.  Yah, sebentar lagi natal, dan kita di Indonesia berputar-putar dalam hal yang sama, soal boleh tidak muslim mengucapkan selamat natal atau tidak.  Masak setiap tahun, banyak muslim di Indonesia tidak naik kelas yah? Termasuk saya.

Semasa kecil, saya menghabiskan masa di Kepulauan Riau.  Saya mengenal beberapa orang yang memang datang langsung dari RRC dan sekitarnya untuk menetap di Indonesia.  Mereka beribadah di kelenteng.  Waktu di Pekan Baru, teman sekelas saya ada yang beretnis Tionghoa yang dari nenek moyang jadi warga negera Indonesia, dan ada juga yang mereka sebut dari Hokkian, memang baru datang dari RRC sana, baru belajar bahasa Indonesia.  Semua terasa bagai sebuahh kewajaran.  Alami.

Jangan ditanya keberadaan umat kristiani.  Guru kimia saya, katholik.  Guru fisika saya, protestan.  Kawan-kawan saya ada anak pendeta, dan ada juga juara MTQ.  Mereka sering main ke rumah saya.  Saya juga sering main ke rumah mereka.  Kalau tiba waktu sholat, mereka menyediakan tempat dan kadang, walau tanpa saya minta, mereka carikan ruangan yang tak ada tanda salibnya.

Ketika kuliah, saya juga berteman dengan kawan Ahmadiyah dan banyak lainnya.  Bahkan, sempat beberapa kali terlibat cinta monyet dengan kawan Tionghoa dan protestan.  Saya bayangkan kawan-kawan saya yang dalam satu keluarga berbeda keyakinan.  Misalkan mereka muslim, tapi eyang-eyang dan bude pakde kristiani.  Seperengetahuan saya mereka hidup dalam harmoni.

Nah, jika sudah begini masih relevankah dilarang mengucapkan selamat natal?  Selamat atas kelahiran Isa Al Masih. Ia sebagaimana Rasulullah membawa ajaran kebaikan yang universal.  Mengucapkan selamat natal tidak berarti aqidah anda langsung goyang dan lalu menjelma bukan muslim lagi.  Kalau begitu dangkal sekali ya?

Saya tak ragu-ragu lagi mengucapkan selamat atas kelahiran Al Masih dan selamat berbahagia bagi umat kristiani yang merayakannya.  Mengucapkan hal ini, tak lantas saya akan berhenti menuliskan opini saya soal ini dan itu, seperti halnya menulis soal Asmirandah tempo hari.  Saya memakai sudut pandang sebagai, “saya” yang kebetulan menyukai Dude Herlino.

Ulat kedua di kepala saya adalah soal sepak bola Indonesia.   Saya benar-benar berharap senja nanti, Tim sepak bola Indonesia menang.  Karena saya tak mampu memberikan anak saya kemewahan di hari liburnya.  Kemenangan sepak bola Indonesia bagi anak saya adalah hal terhebat baginya di akhir tahun ini.  Saya mengirim doa dan berharap 200 juta orang di Indonesia juga kirim doa untuk ini.  Mungkin ada yang mengkritisi saya mengapa minta doa pada hal yang remeh temeh dibanding perang Suriah atau kebiadaban Israel pada Palestina.  Karena saya yakin, untuk dua hal itu sudah ada yang lebih kompeten menuliskannya.  Biarkan sajalah saya menulis hal yang remeh temeh saja.

Nah, ulat ketiga di kepala saya adalah soal Haruki Murakami dan seorang gadis yang setiap pagi yang saya temui di belokan jalan.  Lho? Apa hubungannya?  Yah, karena hampir setiap pagi, saya bertemu dengan gadis ukuran XL seperti saya berlari pagi dengan mengenakan jaket hitam transparan yang keren.  Kami tak saling tersenyum.  Tetapi seperti terkoneksi, saya dan dia akan saling memandang beberapa detik dan meneruskan hidup masing-masing.  Dia terus berlari dengan jaket hitam yang saya kagumi dan saya terus menggeber optimus hijau saya (motor beat saya maksudnya).

Jadi apa hubungannya dengan Haruki Murakami, sang novelis yang terkenal itu? Nah, biar saya hubung-hubungkan dulu.  Jujur, saya belum pernah membaca novel Haruki Murakami ini (akibat menunggu diskon terus), tapi suatu kesempatan saya membaca tulisan Bernard Batubara dan tulisan yanglaina saya baca di blog Fatih Zam tentang buku Haruki Murakami,  What I Talk About When I Talk About Running.   Dalam tulisan itu, diceritakan bahwa menulis novel itu prosesnya seperti berlari, hal yang dilakukan rutin dan konsisten oleh Haruki Murakami yang juga dicoba ditiru oleh sang novelis Bernard Batubara ini.  Ia berbaik hati menuliskan interpretasinya atas buku itu.  Rahasia menulis novelnya, seperti yang sering kita baca: Bakat, fokus, persistensi, ketahanan diri.  Dan semua itu sama halnya seperti berlari.  Haruki Murakami mendapatkan itu salah satunya dengan berlari secara rutin dari usia 33 tahun, bermil-mil jauhnya. Ia konsisten berlari 6 mil sehari.

Kembali kepada gadis berjaket hitam yang keren tadi, saya tiba-tiba ingin bisa seperti itu.  Berlari setiap pagi atau sore dengan jaket hitam yang keren.  Satu, untuk menemukan fokus, persistensi dan ketahanan diri.  Lainnya, untuk mengatasi asam urat saya yang seperti sudah jadi karib bagi tubuh saya.

Saya bilang ke sahabat saya, saya akan menjadikan berlari sebagai resolusi tahun baru saya.  Kata sahabat saya, terlalu lama mulainya.  “Mulai saja sekarang!”  Saya terdiam.  Saya membayangkan pelari perempuan Indonesia yang menangis ketika finish sebagai yang kedua setelah dicurangi tuan rumah Myanmar.

Ah, ulat di kepala saya jadi tambah banyak deh.  Salam sejahtera semoga tercurah kepada Isa Al Masih, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari kebangkitannya nanti.  Semoga Sepakbola dan olahraga Indonesia berjaya di Myanmar.  Dan semoga saya bisa berlari walau tak sehebat Haruki Murakami.

Hatchery of words,

December 19, 2013

ANDAI SAJA AKU ASMIRANDAH

Sumber foto: detik fotoYa, saya pasti sedang berkhayal tingkat tinggi. Wong pasti jauhlah. Dilihat pake sedotan pun, minim kemiripan. Lagipula kehebohan Asmirandah sedikit sudah basi, sekarang jamannya RW versus penyair yang kondang dari Salihara itu.

Jika begitu, mengapa masih bahas Asmi? Habis, kawan-kawan laki-laki saya tak habis membicarakannya. Berkhayal pula untuk mendapatkannya selepas dari pelukan Jonas. Saya tertawa jika mendengar mereka berbincang soal Asmi. Bukan persoalan siapa yang konversi agama atau apalah terkait soal aqidah yang dipersoalkan, tapi bahwa Asmirandah begitu cantik dan beningnya, sehingga semua merasa jatuh sayang dan ingin melindungi Asmirandah. Ha..ha…

Betapa dunia ini begitu bersahabat pada perempuan cantik, muda dan bening sepertinya. Soal ia berbuat yang tidak lazim, mulai dari berpacaran dengan seseorang berbeda keyakinan (soal sensitif di Indonesia) hingga pernikahannya yang tak sampai seumur jagung (wong jagung saja menunggu 3 bukan, khan?) hingga kontraversi “pernah mualaf” mantan bojo yang akan jadi bojonya lagi.

Kalau saya jadi Asmirandah, saya akan berupaya tak pernah putus dari Dude herlino. Halah, apa pula soalnya nih? Loh? Suka-suka sayalah, wong lagi berkhayal. Tapi, saya suka dude karena Dude pintar banyak membaca dan semoga tak pernah lupa salat. Owh, jadi ini soal alim atau tidak ya? Ya, iyalah. Hidup di dunia ini sebentar kok. Setiap saat nyawa dapat dicabut, apa ingin mati dengan pertanyaan soal kontraversi mualaf atau tidak mualaf?

Mungkin ada yang tanya pada saya, “Mengapa sibuk mengurus urusan orang lain?” Ya, enggaklah. Hidup saya saja rumit kok. Makanya, andai jadi Asmirandah, saya akan mempertahankan lelaki sholeh yang bisa jadi imam.

Lho? Memangnya Dude Herlino bisa? Ya, saya tak tahu sampai sebegitu dalamnya. Tetapi jika bisa menilai dari luarnya saja, mana yang akan membawa kita dalam keberkahan Tuhan, saya akan pilih yang itu. Setidaknya, ketika salat, saya bisa berjamaah, rukuk dan sujud di belakang imam seperti itu.

Itu sebabnya, saya berharap Asmi tidak salah memilih orang. Sebenarnya, itu juga tak adil bagi perempuan lain. Kok yang cantik dapat yang ganteng. Nah, itulah dunia, khan aneh kalau yang ganteng selangit sama yang jauh dari cantik. Makanya, saya mengikhlaskan ketika sempat melabuhkan harap pada yang tampan dan sholeh, ternyata ia memilih yang cantik dan muda. Khan, saya sudah cerita dari awal, dunia begitu bersahabat bagi orang seperti itu. Iya, khan? Kok, tulisan ini gak jelas juntrungannya ya? Aha?

Andai saja aku jadi Asmirandah, aku akan pilih orang seperti Dude herlino atau yang lebih baik. Yakinlah, lebih bahagia umroh atau haji menggandeng tangan orang yang akan membimbing tangan kita dan keluarga agar menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Beriman pada Tuhan itu, indah lho. Pernah menangis ketika salat malam khan? Indah sekali rasanya. Coba saja deh.

Hatchery of words,

December, 18, 2013

BREAK THE WALL

court

Hari senin, 6 Mei 2013, dapatlah saya katakan saya mengambil langkah “Break The Wall”. Setelah dengan pertimbangan panjang, hampir satu setengah tahun, berulang pikir. Mundur. Mengudar rasa. Berpikir ulang. Hati saya siap. Saya lihat, Ultraman juga siap. Ia tak lagi merengek sedih, jika mendengar akan ada proses perpisahan permanen antara aku dan ayahnya. Hari Senin itu, aku berangkat, memantapkan langkah ke Pengadilan Agama Depok, untuk menanyakan prosedur perceraian.

Betapa terkejut, pengadilan agama dipenuhi banyak orang. Parkir penuh. Dan saya mendapati wajah-wajah pasrah duduk menanti giliran dipanggil di ruang sidang. Perceraian, ternyata bukan barang langka. Kalau saya boleh berhitung cepat, maka setiap 10 orang di sana, hanya ada 3 laki-laki. Walau belum tentu mereka semua adalah orang yang terkait perceraian, saya menyimpulkan sesuatu secara pihak, bahwa dalam budaya partiakhis yang kental, perempuan, masih dalam posisi termarginalkan.

Setelah mendapatkan senarai keterangan untuk melengkapi berkas, saya tetap melanjutkan perjalanan ke kantor. Tak ada tangis lagi. Semua terasa biasa saja. Saya terus bekerja menyelesaikan banyak pekerjaan yang berdeadline robot.

Selang satu hari, Rabu, 8 Mei 2013. Saya mantap berangkat dengan segala berkas itu. Sayang, surat gugat dianggap kepanjangan. Sang petugas menawarkan bantuan dan mengubahnya dengan kesepakatan. Tentu tidak gratis. Singkat kata, saya mengakhiri sessi panjang itu dengan makan siang Sop iga di kantin pengadilan. Rasanya lumayan.

Sekarang, tinggal menunggu proses selanjutnya, 45 hari dari tanggal 8 Mei. Artinya, sekitar tanggal 20 Juni, adalah Sidang pertama. Kita lihat saja nanti. Bismillah.

Sesuatu di Masa Lalu

“Kau tahu kenangan akan persahabatan kita tak pernah usang. Tak lekang. Pun tak pernah kusam. Bertahun tanpa kabar apapun tentangmu, aku tetap merawat ingatan pada perkawanan kita.” Aku memalingkan wajahku dari Awan. Aku takut Awan menatap cahaya mataku, bukan nyala persahabatan. “Itu sudah lama sekali bukan, Maura?” Aku mengangkat bahu pelan. Aku mengaduk Cappuccino hangat itu berulang-ulang. Berupaya melarutkan rindu yang menggumpal dan mengendap kuat di palung jiwa. “Aku bahagia bertemu kembali denganmu, Maura!”

Awan bersikap sama seperti 15 tahun silam. Ia akan menatapku dengan mimik lucu wajahnya. Mengejek sikapku yang setengah gila dan tingkah aneh yang tidak dilakukan mahasiswi di kampus kami dulu. Mengetahui posisi dan kedudukannya yang terhormat sekarang, aku sungkan juga ia begitu. Aku bertanya sesuatu padanya, dan ia menjawab asal-asalan khas sikap menggodanya di masa lalu. Awan masih seperti dulu, menganggap aku tak banyak tahu, dan sering sekali memiliki rumus dan formula yang salah dalam memutuskan sesuatu.

“Kau pintar sekali ya?” kataku sambil memberanikan menantang matanya yang bulat. Ia tertawa keras sekali. “Dan kau selalu gila seperti ini bukan?” tanyanya sambil terus tertawa. Padahal aku telah menjelma perempuan dewasa dengan putra yang akan beranjak remaja. Merawat diriku baik-baik dan tidak lagi memanjat pagar gedung manapun. Aku takut waktu berlalu. Aku takut kehilangannya lagi. Jadi, biar ia mengingatku, selalu sebagai perempuan gila yang memanjat pagar kampus dan menumpang truk pengangkut hewan demi kemping berbiaya minim. Seperti dulu. Ada telaga yang genang di mataku.

love rain